Solar Subsidi Berulang Hilang dari SPBU di Minahasa Selatan, Nama yang Sama Kembali Disebut Warga

MINSEL, Corong masyarakat.com —Dugaan penyalahgunaan distribusi solar bersubsidi di Minahasa Selatan kembali menjadi sorotan. Warga mencatat, kelangkaan solar tidak terjadi sekali, melainkan berulang di sejumlah SPBU. Dalam kondisi tersebut, nama yang sama kembali disebut masyarakat sebagai bagian dari dugaan rantai pengalihan BBM subsidi.

Minggu, 21 Desember 2025.
Sejumlah SPBU di wilayah Amurang dan sekitarnya dilaporkan kehabisan solar dalam waktu singkat, bahkan pada jam operasional awal. Pola ini dinilai janggal oleh warga, mengingat kebutuhan masyarakat—terutama nelayan, petani, dan pelaku usaha kecil—tetap tinggi.
“Solar sering habis sebelum siang. Kejadiannya tidak satu kali,” ujar seorang warga yang rutin mengantre di SPBU Kapitu.

Warga menduga solar subsidi tidak sepenuhnya sampai ke konsumen yang berhak. Mereka menyebut adanya indikasi pengumpulan dari beberapa titik SPBU sebelum solar tersebut dialihkan ke jalur di luar ketentuan.

Dalam konteks dugaan tersebut, nama Marco dan Frenly kembali disebut warga. Menurut masyarakat, kedua nama ini telah lama dikaitkan dengan dugaan pengendalian distribusi solar di wilayah Kapitu dan sekitarnya. Namun hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari aparat penegak hukum mengenai sejauh mana informasi tersebut telah ditelusuri.

Kelangkaan solar berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat. Nelayan mengaku terpaksa mengurangi hari melaut, sementara petani dan pelaku usaha kecil menghadapi kenaikan biaya operasional.

Polda Sulawesi Utara sebelumnya menyatakan komitmen untuk memberantas mafia BBM dan menindak penyalahgunaan solar subsidi. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara juga menginstruksikan pengawasan ketat terhadap SPBU. Namun warga menilai, pola kelangkaan yang terus berulang menunjukkan pengawasan belum berjalan efektif.

“Kalau kejadiannya berulang dan nama yang disebut tetap sama, wajar publik bertanya: sejauh mana pengawasan dilakukan?” ujar seorang tokoh masyarakat Minahasa Selatan.

Hingga laporan ini diterbitkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pola pengalihan solar subsidi maupun pihak-pihak yang disebut warga. Upaya konfirmasi kepada Marco dan Frenly juga belum mendapatkan tanggapan.

Masyarakat berharap aparat penegak hukum segera melakukan penelusuran terbuka dan menyeluruh. Warga menilai, tanpa kejelasan dan tindakan konkret, kelangkaan solar subsidi berpotensi terus berulang dan memperdalam ketidakpercayaan publik terhadap pengawasan distribusi BBM.

[ Tim ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *