Bantaran sungai tergerus hingga mendekati rumah warga. Aktivis mengingatkan Pemkab Minahasa Selatan, Pemprov Sulut, dan BWS Sulawesi I agar segera turun tangan sebelum jatuh korban.
MINSEL, CorongMasyarakat.com — Ancaman itu kian nyata dan berada tepat di belakang rumah warga. Abrasi sungai di Desa Sapa Barat, Kecamatan Tenga, terus menggerus bantaran hingga menyisakan jarak tipis ke permukiman. Jika dibiarkan, rumah warga hanya tinggal menunggu waktu untuk runtuh ke alur sungai.
Gerusan tanah terjadi di kawasan sungai yang bermuara langsung ke laut—kombinasi arus sungai dan tekanan gelombang laut mempercepat kerusakan bantaran. Warga kini hidup dalam bayang-bayang longsor, guhi, banjir, dan kehilangan tempat tinggal, tanpa kepastian perlindungan dari pemerintah Kabupaten Minsel.
Aktivis Sulawesi Utara Om Lole melontarkan kritik keras. Ia menilai pemerintah kabupaten Minsel dan lembaga teknis gagal membaca situasi darurat. “Ini bukan retakan biasa. Ini ancaman langsung terhadap nyawa rakyat. Kalau negara hadir setelah ada korban, itu bukan solusi—itu kelalaian,” ujarnya, Kamis, 26 Februari.
Om Lole mendesak pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, Bupati Franky Donny Wongkar, dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara segera bertindak. Ia juga menyoroti peran Balai Wilayah Sungai Sulawesi I yang memiliki mandat mengendalikan daya rusak air. Menurutnya, tidak ada alasan menunda inspeksi lapangan, penguatan darurat bantaran, dan langkah teknis cepat untuk menahan abrasi.
“Jangan sibuk rapat di kantor sementara rumah rakyat di bibir sungai. Negara tidak boleh menunggu ada korban baru bergerak,” kata Om Lole. Ia menegaskan, keselamatan warga Sapa Barat harus menjadi prioritas, bukan sekadar catatan laporan.
(Ilham Schu)






