Mandat Nasional untuk Tou Kawanua yang Tak Pernah Lupa Akar
Manado, CorongMasyarakat.com ━ Ada kisah yang tidak lahir dari ruang rapat berpendingin udara, melainkan ditempa oleh keringat, kesabaran, dan keberanian merantau. Nama itu adalah Dr. Daniel Selvanus Palit, S.E., Tou Kawanua yang puluhan tahun menaklukkan kerasnya Jakarta, membangun kerajaan usaha dari titik nol, sebelum akhirnya memilih pulang. Pulang bukan sebagai pemenang yang beristirahat, tetapi sebagai petarung yang ingin menanam makna. Kini, langkah hidupnya kembali menemukan bab penting saat Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia (TMI), Don Muzakir, secara resmi mempercayakan kepemimpinan DPW TMI Sulawesi Utara kepada Daniel Palit—sebuah amanah nasional yang berakar pada integritas dan rekam jejak panjang pengabdian.

Dr. Daniel Selvanus Palit, S.E. menerima SK kepemimpinan DPW TMI Sulut sebagai simbol amanah nasional dan pengabdian daerah. (Istimewa)
Surat Keputusan bernomor 131/SK-DPN/TMI/II/2025 bukan sekadar lembaran administrasi. Ia adalah simbol kepercayaan dan harapan. Dalam pesannya, Don Muzakir menegaskan pentingnya soliditas organisasi serta sinergi erat dengan Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, demi mengawal program strategis pertanian Presiden Prabowo Subianto. Pesan itu mengalir seperti penegasan sejarah: pertanian bukan hanya soal tanah dan benih, tetapi tentang kedaulatan dan martabat rakyat. Di tangan Daniel Palit—pengusaha yang memahami manajemen, politisi yang mengerti nurani—TMI Sulut diproyeksikan menjadi rumah besar bagi petani, bukan sekadar organisasi papan nama.
Menjawab mandat tersebut, Daniel Palit berbicara dengan nada tenang namun sarat keyakinan. Koordinasi dengan pemerintah daerah, menurutnya, adalah keniscayaan moral. Bagi sosok yang mengusung semboyan “Cintai Kejujuran”, kepemimpinan bukan soal sorotan, melainkan keberpihakan. Dari ladang-ladang Sulawesi Utara, ia ingin menyemai semangat swasembada pangan dan mengembalikan kebanggaan petani sebagai penjaga masa depan bangsa. Inilah Daniel Palit—bukan hanya pemimpin organisasi, tetapi simbol pulang kampung yang bermartabat, yang membuat siapa pun yang menuliskan kisahnya merasa ikut bertanggung jawab menjaga kejujuran sejarah.
[ Don ]






