Dari Sangihe hingga posisi strategis di Bank SulutGo, jejak Machmud Turuis adalah narasi tentang kerja sunyi, integritas, dan kepemimpinan yang merangkul banyak ruang pengabdian.
Manado, CorongMasyarakat.com ━ Tidak banyak sosok yang mampu memadukan ketegasan profesional dengan kelembutan sikap, namun Machmud Turuis tampaknya adalah salah satu pengecualian yang lahir dari tanah Sangihe. Sejak 12 April 1967, lelaki ini tumbuh bersama angin laut yang membentuk karakter: jujur, tenang, tetapi tidak pernah gentar menghadapi arus tanggung jawab. Ketika langkahnya tiba di Bank SulutGo pada tahun 1990, ia mengawali perjalanan bukan sebagai seorang pejabat tinggi, melainkan sebagai pekerja yang percaya bahwa kestabilan sebuah institusi hanya lahir dari kesabaran dan kedisiplinan.
Perjalanan waktu membuktikan keyakinan itu. Dari berbagai posisi yang pernah ia emban—hingga akhirnya menjadi Direktur Kepatuhan Bank SulutGo—Machmud Turuis menunjukkan bahwa kepatuhan bukan sekadar aturan tertulis, melainkan sikap moral yang menjaga keselamatan banyak kepentingan. Di bawah sentuhannya, BSG tidak hanya memperluas jangkauan layanan hingga Gorontalo dan mendorong digitalisasi sistem keuangan daerah, tetapi juga menata kultur organisasi yang lebih terarah dan berorientasi integritas. Sederhana dalam pergaulan, ramah dalam tutur, tetapi tegas dalam prinsip—sebuah kombinasi yang mengundang hormat dari rekan kerja maupun mitra lembaga.
Namun jejaknya tidak berhenti pada dunia perbankan. Sebagai Ketua PBSI Kota Manado periode 2025–2029, ia adalah energi yang menghidupkan sportivitas bulu tangkis di kota ini; tangan kepemimpinannya telah mengantar cabang olahraga tersebut meraih kemajuan yang signifikan. Di ruang spiritual dan sosial, ia kembali dipercaya sebagai Ketua Syarikat Islam Sulawesi Utara, setelah terpilih aklamasi dalam Muswil X. Tiga peran berbeda—direktur, ketua olahraga, dan pemimpin organisasi kemasyarakatan—menyatu dalam sosok yang bekerja hening, tanpa perlu sorotan berlebihan. Machmud Turuis menjadikan hidupnya sebagai bukti bahwa integritas tidak pernah membutuhkan panggung besar; cukup diterjemahkan dalam ketulusan memimpin.
[ Om Lole ]









