Wartawan Datang untuk Konfirmasi, Unggahan Facebook Reggie Ruru (RR) Justru Mempertanyakan: “Ngana Wartawan? Bilang Kalo Mo Minta Doi”
MANADO, CorongMasyarakat.com — Festival Sepak Bola Usia Dini Maesa Manado atau Maesa Cup yang digelar di Lapangan Jambore Winangun, Manado, 25–27 September 2026, menjadi sorotan setelah tim media datang melakukan konfirmasi kepada Ketua Panitia Vicky Sky Tunuu Daipaha. Dalam wawancara tersebut, panitia menyebut turnamen diikuti sekitar 60 tim kategori U-9, U-10, U-11 dan U-12, dengan biaya pendaftaran Rp600 ribu per tim. Kegiatan disebut diselenggarakan SSB Maesa Manado dan dibuka Kepala Bidang Pemuda Dispora Kota Manado, Drs. Victor J. Sinjal, M.Si.

Unggahan Facebook Reggie Ruru (RR) yang menjadi sorotan setelah wartawan melakukan konfirmasi kepada pihak panitia Maesa Cup.
Sorotan kemudian bergeser kepada oknum panitia berinisial RR alias Reggie Ruru. Setelah wartawan melakukan konfirmasi, RR membuat unggahan di Facebook yang memuat kalimat: “Ada surat dari walikota PSSI sampe lurah bro, bukang tournamen abal-abal ini torang ada beking Om, kong mo stel baba tanya sampe di akar, ngana wartawan? Bilang kalo mo minta doi.” Unggahan tersebut menjadi pertanyaan serius apabila memang ditujukan kepada wartawan yang datang melakukan konfirmasi. Sebab, saat itu wartawan belum menerbitkan berita dan kedatangan mereka adalah untuk meminta informasi serta penjelasan dari pihak panitia, bukan meminta uang. Pertanyaan publiknya sederhana: atas dasar apa kerja jurnalistik untuk meminta keterangan kemudian dikaitkan dengan permintaan “doi”? Dewan Pers sendiri menegaskan bahwa wartawan yang mengajukan pertanyaan untuk menggali informasi dan memperoleh keterangan dari narasumber merupakan bagian dari proses jurnalistik.
Aktivis pemerhati sosial, pendidikan dan antikorupsi Sulawesi Utara, Jeffrey Sorongan, menilai sikap tersebut perlu dievaluasi. Menurut Jeffrey, wartawan yang datang melakukan konfirmasi tidak semestinya langsung dikaitkan dengan permintaan uang. “Kalau kegiatan jelas dan terbuka, wartawan datang bertanya harusnya dijawab dengan data. Jangan sampai muncul kesan arogan, tertutup atau anti-wartawan,” tegasnya. Ia juga meminta panitia memperhatikan aspek keselamatan anak, termasuk jadwal pertandingan sekitar pukul 13.30 WITA di tengah kondisi panas serta lapangan yang kering dan berdebu. Sorotan terhadap pernyataan RR juga layak menjadi perhatian organisasi profesi pers, termasuk PWI Manado dan PWI Sulut. Sebab, persoalannya bukan sekadar soal satu unggahan di media sosial, tetapi menyangkut bagaimana kerja jurnalistik diperlakukan ketika wartawan datang untuk meminta informasi. Dewan Pers pada Agustus 2026 menegaskan bahwa kerja jurnalistik merupakan kerja untuk publik dan bahwa tindakan merendahkan atau menghalangi jurnalis dapat berdampak pada hak publik untuk memperoleh informasi.
Di sisi lain, media juga memperoleh informasi dari sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan terkait dugaan setoran uang parkir kepada RR. Informasi tersebut menyebut uang hasil parkir di sekitar lokasi disebut disetorkan kepada RR, namun keterangan ini masih memerlukan klarifikasi dan belum dapat dianggap sebagai fakta. RR dan pihak panitia perlu diberikan ruang untuk menjelaskan persoalan tersebut, termasuk mekanisme pengelolaan parkir di fasilitas milik Pemkot Manado yang digunakan untuk kegiatan. CorongMasyarakat.com menegaskan bahwa informasi tersebut ditempatkan sebagai dugaan yang masih membutuhkan verifikasi, bukan sebagai kesimpulan bahwa telah terjadi pelanggaran. Demikian pula terkait unggahan RR, media tidak menjatuhkan vonis hukum, melainkan menyajikan pernyataan yang dipublikasikan di ruang terbuka dan meminta penjelasan atas konteks serta maksudnya. Pada akhirnya, sorotan ini bukan soal mencari-cari kesalahan panitia. Ini soal keterbukaan, akuntabilitas dan penghormatan terhadap kerja jurnalistik. Jika ada informasi yang dianggap keliru, jawab dengan data dan klarifikasi—bukan dengan tudingan. Wartawan datang membawa pertanyaan, bukan mencari “doi”.
(Om Lole)






