Nada profetis bergema dari Panglima Panji Yosua GMIM, James Sumendap. Di tengah riak polemik jabatan Pjs Ketua Sinode, ia menyerukan seruan keras namun berwibawa: “Gereja bukan panggung kuasa, melainkan altar pengabdian yang harus dijaga kesuciannya.”
Tomohon, CorongMasyarakat.com ▬ Di antara desir angin dan riuh bisik tentang jabatan Pjs Ketua Sinode GMIM, suara itu muncul bagai gelegar dari puncak rohani: tegas, jernih, dan berani. James Sumendap — Panglima Panji Yosua GMIM, yang juga dikenal sebagai pemimpin dengan karakter baja — kembali menggugah kesadaran banyak orang. Bagi Sumendap, gereja bukan gelanggang politik, bukan pula rumah transaksi kepentingan. “GMIM adalah lembaga mulia yang berdiri di atas altar kesucian. Jangan biarkan gereja yang kita cintai ini menjadi lapak ambisi manusia,” ujarnya, suaranya bagai palu kebenaran di tengah riuh kebingungan rohani.
Ia tidak berbicara untuk memihak, melainkan untuk mengingatkan. Dengan nada penuh wibawa, Sumendap menegaskan: “Kalau kita berpikir pendek, maka kita akan memperdebatkan siapa Pjs Ketua Sinode. Tapi jika kita berpikir rohani, maka kita akan menunduk di hadapan Tuhan dan bertanya: apakah gereja masih kudus di mata umat?” Sebuah kalimat yang mengguncang, menelanjangi motif, dan mengingatkan banyak pihak agar tidak mencemari nama GMIM dengan intrik-intrik duniawi. Dalam pandangan Sumendap, gereja harus dijaga kesakralannya oleh para pelayan yang berhati imam, bukan oleh mereka yang menjadikan altar sebagai panggung kuasa.
[ Don ]









