Mapalus Cendekiawan GMIM Rayakan Ibadah Reformasi Gereja di Kantor Sinode, Menyatukan Pikiran dan Iman dalam Terang Kasih Kristus
Tomohon, CorongMasyarakat.com ━ Di bawah langit Tomohon yang sejuk, Jumat pagi, 31 Oktober 2025, lantai tiga Kantor Sinode GMIM Talete menjelma altar kebangunan rohani para cendekiawan gereja. Di ruang yang dipenuhi aroma doa dan dialog, Ibadah 508 Tahun Reformasi Gereja berlangsung bukan sekadar ritual — tetapi sebuah panggilan untuk menghidupkan kembali api Luther: Sola Gratia, Sola Fide, Solus Christus, Sola Scriptura, Soli Deo Gloria.
Mereka yang hadir bukan sekadar jemaat biasa, melainkan otak-otak teolog, pemikir, dan pejuang iman — para Penatua, Diaken, serta kaum intelektual Gereja Masehi Injili di Minahasa yang berhimpun dalam wadah Mapalus Cendekiawan GMIM.
Ibadah dipimpin oleh Pdt. Melki Tamaka yang dalam khotbahnya menekankan bahwa Reformasi bukan hanya peringatan sejarah, melainkan refleksi iman yang harus terus hidup dalam keseharian umat.
Reformasi kali ini bukan perdebatan di balik layar, melainkan perjumpaan pikiran dalam harmoni kasih. Seusai ibadah, diskusi intelektual berlangsung hangat dan penuh hikmat, dipandu oleh Pnt. Jackried Maluenseng selaku moderator.
Pnt. Recky J. Montong, M.Th — Wakil Ketua BPMS Bidang Litbang — membuka dengan pernyataan teduh namun tegas: “Tidak ada kata yang menghina atau melecehkan dalam kasus DH. Biarlah hukum yang berbicara.” Kalimat itu menggema di ruang sinode, bagai lonceng kebenaran di tengah gelombang perbedaan pandangan.
Dalam suasana yang berwibawa namun hangat, satu per satu tokoh cendekiawan gereja berbagi pokok pikiran, membumikan semangat Reformasi dalam konteks kekinian gereja.
Di antara mereka hadir nama-nama besar yang menjadi pilar dalam perjalanan pelayanan GMIM:
Ir. Marhany Pua (Anggota BPS GMIM 1995–2005), Pnt. Dr. David Sompie (Ketua YGAZRW s.d. 2024), Pnt. Dany Kumayas (KPSG 2000–2005), Pnt. Franky Mokodompis (Perumus Tata Gereja 2007/Sekretaris KPSG 2005–2010), Pdt. Jacky Weol, Pnt. Max Kawengian, Pnt. Jane Maengkom, Ibu Mona Saroinsong, Pnt. Maudy Manoppo, Pdt. Steven Manengkei, serta Pnt. Give Mose (Majelis Sinode SMST).
Turut memberi warna pula Pnt. Melky Tambariki, admin utama Forum Diskusi GMIM, yang menegaskan pentingnya ruang dialog yang sehat di tengah kemajuan era digital gereja.
Dan ketika diskusi mencapai penghujungnya, Dkn. Lily Hiedayat — salah satu inisiator Mapalus Cendekiawan GMIM — menutup dengan ucapan terima kasih dan refleksi mendalam: “Perbedaan bukan alasan untuk permusuhan, tetapi ruang untuk menyempurnakan perjuangan. Kita bersatu bukan karena sama, tetapi karena satu dalam Kristus.”
Diskusi itu bukan sekadar forum gagasan, melainkan ruang perjumpaan hati. Tidak ada lagi dentum ego atau bara perdebatan seperti di ruang maya. Di Aula Sinode itu, para cendekiawan duduk sejajar — dalam semangat Mapalus yang sejati: saling menopang, saling mendengar, saling menghidupi.
Dari perbedaan lahir persatuan, dari luka tumbuh pengertian, dan dari dialog tumbuh kedewasaan rohani.
Di akhir pertemuan, gema kalimat itu terdengar bagai mazmur penutup Reformasi: “Hanya bagi kemuliaan nama Tuhan.”
Dan di situlah makna sejati Reformasi hidup — bukan sekadar mengenang sejarah 508 tahun lalu, tetapi menghidupkan kembali panggilan iman yang berpadu dengan kejernihan nalar dan ketulusan hati.
[ Don ]






