Perseteruan internal kembali mencoreng wajah pelayanan. Gugatan antar pendeta mengguncang GMIM dan menimbulkan citra kelam di mata publik.
Tomohon, CorongMasyarakat.com —
Gelombang panas kembali menerpa tubuh Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Di tengah panggilan suci untuk menggembalakan umat, sejumlah oknum pendeta justru saling menggugat di meja hijau. Perkara dengan Nomor 660/Pdt.G/2025/PN Mnd kini resmi teregister di Pengadilan Negeri Manado.
Dalam perkara tersebut, Pdt. R.T. (Ricky Tafuama) bersama beberapa rekan tercatat sebagai penggugat, sedangkan Ketua Sinode GMIM, Pdt. Dr. Hein Arina, Th.D., beserta Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) didudukkan sebagai tergugat. Menariknya, dalam daftar turut tergugat juga tercantum Kejaksaan Negeri Manado. Fakta ini memperlihatkan bahwa konflik internal gereja telah menjalar ke ranah hukum — menjadi tontonan publik yang menyedihkan dan ironis.
Salah satu pemerhati GMIM, Diaken Lily Hiedayat, menilai langkah hukum tersebut mencederai martabat pelayanan.
“Harusnya pendeta menggembalakan domba, bukan menjadi hakim. Ini bukan cerminan seorang pelayan Tuhan,” tegas Lily.
Ia mengaku heran, karena perkara yang digugat justru berkaitan dengan uang yang telah dikembalikan, sehingga langkah hukum itu dinilai janggal dan dapat memicu kesalahpahaman baru di tengah jemaat.
Lily juga mengingatkan bahwa Pdt. R.T. sebelumnya sempat memimpin aksi di Kantor Sinode GMIM pada saat hangatnya kasus DH, sehingga langkah terbarunya ini kembali menimbulkan perbincangan di kalangan warga gereja.
“Pdt. R.T. adalah pendeta fungsional di kampus. Langkah seperti ini mencoreng citra pelayanan gereja,” ujarnya dengan nada tegas.
Lebih lanjut, Lily menegaskan bahwa perpecahan yang disulut oleh ulah segelintir oknum rohaniwan telah menimbulkan kesan negatif di masyarakat.
“Kalau sesama pendeta sudah saling menyerang, lalu dari siapa jemaat belajar kasih dan keteladanan? Ini sangat memprihatinkan,” katanya.
Pernyataan Lily menutup satu kenyataan getir: GMIM sedang terluka bukan oleh serangan dari luar, melainkan oleh goresan tangan dari dalam.
“GMIM adalah satu tubuh — Tubuh Kristus. Jika tangan terluka, seluruh tubuh pun merasakan sakit. Jika mata menangis, itu bukan karena sinetron, tapi karena hati yang pedih,” ucap Lily penuh iman.
“Namun saya percaya, Tuhan sangat mengasihi GMIM. Ini hanyalah riak kecil di tengah gelombang. Pada waktunya, badai ini akan reda ketika Tuhan mengangkat tangan-Nya.”
[ Don ]






