Oleh: Elisabeth M.F. Lalita, S.Tr. Keb, SKM, M.Kes
Dosen Poltekkes Kementerian Kesehatan Manado, Jurusan Kebidanan
MINSEL, CorongMasyarakat.com — Upaya penanggulangan anemia di Indonesia terus berkembang dengan pendekatan yang semakin inovatif dan berbasis kearifan lokal. Salah satu terobosan yang patut diapresiasi hadir dari Desa Poigar, Kecamatan Sinonsayang, Kabupaten Minahasa Selatan, melalui pemanfaatan ubi jalar ungu sebagai solusi pangan bergizi dalam mencegah anemia.
Anemia masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang signifikan, khususnya pada kelompok rentan seperti ibu hamil, anak balita, dan lanjut usia. Pada ibu hamil, kondisi anemia berisiko memicu gangguan pertumbuhan janin hingga stunting. Sementara pada anak balita, anemia berdampak pada perkembangan kognitif dan pertumbuhan fisik. Pada kelompok lansia, anemia berkorelasi dengan meningkatnya risiko penurunan fungsi tubuh, termasuk kognisi dan mobilitas.
Dalam konteks tersebut, pendekatan berbasis pangan lokal menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga berkelanjutan. Ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.), yang mudah ditemukan di wilayah Sulawesi Utara, terbukti memiliki kandungan zat besi, vitamin C, serta antosianin. Ketiga komponen ini berperan penting dalam proses pembentukan sel darah merah (hematopoiesis) serta meningkatkan penyerapan zat besi non-heme dalam tubuh.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada 23 Maret 2026 dan dievaluasi pada 1 Mei 2026, tim akademisi menghadirkan edukasi serta praktik langsung pemanfaatan ubi jalar ungu dalam olahan pangan lokal, seperti bubur Manado (tinutuan). Program ini tidak hanya berfokus pada aspek konsumsi, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat dalam mengolah bahan pangan bergizi secara mandiri.
Kegiatan tersebut turut diintegrasikan dengan layanan pemeriksaan kesehatan dasar, meliputi pengukuran tekanan darah, kadar hemoglobin, glukosa darah, kolesterol, serta asam urat. Selain itu, dilakukan pula penimbangan berat badan dan skrining stunting pada anak balita. Pendekatan komprehensif ini mencerminkan sinergi antara edukasi gizi dan deteksi dini masalah kesehatan masyarakat.
Partisipasi aktif masyarakat menjadi indikator keberhasilan program ini. Keterlibatan aparat desa, kader kesehatan, ibu hamil, remaja, hingga lansia menunjukkan adanya kesadaran kolektif terhadap pentingnya pencegahan anemia sejak dini. Program ini juga berlanjut dengan pelatihan kader dan masyarakat dalam penyediaan makanan bergizi berbasis bahan lokal.
Lebih dari sekadar intervensi kesehatan, pemanfaatan ubi jalar ungu juga membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat desa. Dengan pengolahan yang tepat, komoditas lokal ini berpotensi menjadi produk bernilai tambah yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Inisiatif ini menjadi contoh konkret bagaimana kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah desa dapat melahirkan solusi inovatif yang berdampak luas. Pendekatan berbasis potensi lokal seperti ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan kesehatan nasional yang menekankan pada promotif dan preventif.
Ke depan, model intervensi serupa diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia, sebagai bagian dari upaya kolektif dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, mandiri, dan berdaya saing.
