Manado, CorongMasyarakat.com — Di tengah keraguan publik yang kerap menguji kualitas aparat, AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan, S.H., M.Si., memilih satu cara paling tegas untuk menjawab: prestasi nyata.
Kapolres Bolaang Mongondow Timur itu meraih Juara II Kejuaraan Menembak Kapolda Cup 2026, yang digelar di Lapangan Tembak Jems Timpolas, Manado, Sabtu (27/6), dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80.
Bertanding dalam senyap, AKBP Golfried Pakpahan menunjukkan kelasnya; seorang perwira, dengan konsekuensi menjaga presisi di setiap tarikan pelatuk, menghadirkan fakta yang sulit dibantah: kualitas tidak lahir dari simbol, melainkan dari disiplin yang teruji.
Prestasi tersebut bukan hadir secara instan. Ia merupakan akumulasi dari perjalanan panjang yang ditempa dalam standar tinggi. Sebagai mantan personel Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Golfried membawa bekal pengalaman operasional yang membentuk ketenangan, ketepatan, serta kontrol emosi di bawah tekanan.
Sebagai mantan anggota satuan elite, ia telah melewati proses rekrutmen dan pelatihan dengan standar akurasi tinggi, terutama dalam penggunaan senjata api. Fondasi inilah yang kemudian menjadi diferensiasi nyata di arena kompetisi yang ketat.
Kompetisi Kapolda Cup 2026 mempertemukan peserta dari berbagai satuan dengan kemampuan terbaik. Namun, di tengah persaingan tersebut, AKBP Golfried tampil bukan sekadar sebagai peserta, melainkan representasi kualitas yang teruji.
“Prestasi ini merupakan hasil latihan, disiplin, dan dukungan seluruh personel,” ujarnya singkat, mencerminkan kepemimpinan yang tidak berpusat pada individu, melainkan pada kekuatan kolektif.
Di titik ini, kontras menjadi terang. Di saat sebagian meragukan, ia membuktikan. Di saat sebagian berbicara, ia menunjukkan. AKBP Golfried tidak membangun narasi—ia menghadirkan bukti.
Capaian ini sekaligus menjadi refleksi bahwa profesionalisme Polri tidak berhenti pada tugas operasional semata. Ada dimensi kompetensi yang terus diasah, diuji, dan dibuktikan secara nyata.
Bagi Polres Bolaang Mongondow Timur, prestasi ini bukan sekadar kebanggaan, melainkan standar yang hidup. Sebuah pengingat bahwa kualitas menuntut konsistensi, dan hasil adalah konsekuensi dari disiplin panjang.
Momentum Hari Bhayangkara ke-80 pun menemukan maknanya: pengabdian tidak cukup ditampilkan, tetapi harus dibuktikan dengan kualitas yang terukur.
Pada akhirnya, satu hal menjadi jelas—ketika presisi berbicara, integritas tidak perlu diperdebatkan. (*Om Lole)






