Klarifikasi Lengkap Franki Nussi: Bantah Tuduhan Penipuan, Paparkan Fakta Proyek Tambang dan Jejak Kerja di Papua

Manado, CorongMasyarakat.com – Menanggapi pemberitaan yang beredar di sejumlah media online dan media sosial, Franki Nussi akhirnya menyampaikan klarifikasi resmi guna meluruskan informasi yang dinilainya tidak berimbang dan berpotensi mencemarkan nama baiknya.

Kepada corongmasyarakat.com, Franki Nussi datang langsung memberikan penjelasan secara terbuka. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan seperti yang dituduhkan dalam pemberitaan sebelumnya.

“Mengklarifikasi berita ini, saya Franki Nussi menyatakan bahwa saya bukan otak dugaan penipuan tambang emas Rp1,7 miliar. Dalam proyek tambang di Bolaang Mongondow, saya tidak terlibat sejak awal, baik dalam proses pencarian investor maupun kesepakatan kerja sama. Lokasinya pun saya tidak tahu. Saat proyek itu berjalan, saya berada di Papua dan tidak mengetahui aktivitas tersebut,” jelas Franki.

Ia kemudian menceritakan bahwa keterlibatannya baru muncul saat proyek di Bolmong mengalami kendala. “Soal proyek Nabire tahun 2021, saya dihubungi ketika proyek sebelumnya mengalami kondisi stuck. Saat itu saya sedang mengerjakan survei tambang di Papua,” ujarnya.

Franki menegaskan, seluruh proyek tambang yang pernah ia kerjakan bukanlah proyek fiktif. Menurutnya, setiap pekerjaan selalu melalui tahapan standar operasional yang jelas.

“Proyek yang saya kerjakan itu nyata. Sebelum masuk produksi, selalu ada tahapan survei eksplorasi, pengambilan data lapangan, pengondisian sosial masyarakat, hingga pengurusan izin. Itu prinsip kerja saya,” tegasnya.

Terkait tudingan menerima dana Rp400 juta, Franki membantah keras. “Saya tidak pernah menerima uang tersebut. Silakan dibuktikan jika memang ada. Jangan membangun opini tanpa dasar,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan di Nabire benar-benar berjalan di lapangan. Perannya bersama tim lokal adalah menyiapkan lahan potensial, menjalin kesepakatan dengan pemilik lahan dan masyarakat adat, serta menyediakan alat berat seperti excavator dan dump truck.

“Posisi saya bersama partner orang lokal di Nabire adalah menyiapkan lahan potensial, mengatur kesepakatan dengan pemilik lahan dan adat, serta menyediakan sendiri excavator dan dump truck sebagai bagian dari modal aset. Itu nyata ada di lapangan,” ungkapnya.

“Semua kegiatan di Nabire dapat saya pertanggungjawabkan. Proyek itu bukan gagal, tapi sempat berjalan lalu pending karena keterbatasan biaya operasional. Itu hal biasa dalam dunia usaha, sambil menunggu tambahan modal,” ungkapnya.

Franki juga menepis anggapan bahwa dirinya menghilang. Ia menegaskan masih berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk mitra kerja di sana.

Lebih jauh, Franki menyayangkan adanya pemberitaan yang memuat foto dirinya secara jelas tanpa konfirmasi. Ia menilai hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip jurnalistik yang mengedepankan keberimbangan.

Selain klarifikasi terkait proyek, Franki juga menanggapi komentar di media sosial yang dinilainya tidak berdasar. Ia secara khusus menyinggung salah satu akun Facebook.

“Untuk komentar dari akun atas nama Aktif Karamb*t, saya tegaskan saya tidak mengenal Anda. Pernyataan itu tidak benar,” ujarnya.

Franki kemudian menceritakan pengalamannya mengelola tambang di Yahukimo, Papua, yang menurutnya berjalan nyata dan memberikan manfaat.

“Proyek tambang saya di zona merah Yahukimo tahun 2017–2018 berjalan dengan baik. Karyawan saya hampir 80 orang, sebagian besar adalah kerabat dan orang-orang terdekat saya. Saya berhenti karena faktor keamanan yang berisiko tinggi. Saya tidak akan mempertaruhkan nyawa karyawan hanya demi keuntungan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa usaha tersebut dijalankan dengan modal pribadi dan penuh tanggung jawab, termasuk kepada masyarakat adat.

“Saya tetap membayar hak-hak pemilik ulayat seperti uang izin, uang masuk, hingga kesepakatan adat. Semua dilakukan secara adil dan transparan,” tambahnya.

Dokumentasi Franki Nussi saat berada di Papua bersama tenaga kerja lokal, sebagai bukti aktivitas proyek berjalan langsung di lapangan. (Foto: istimewa)

“Saya tetap membayar uang permisi adat, uang masuk, dan uang jaminan ke pemerintah desa. Semua itu bagian dari komitmen saya menghargai pemilik ulayat dan aturan lokal,” ungkapnya.

Bahkan, untuk menjangkau lokasi tambang di pedalaman, ia menyewa helikopter sebagai sarana transportasi operasional. “Itu bukti bahwa usaha ini serius dan nyata. Jadi tidak masuk akal jika saya disebut penipu,” tegas Franki.

Menanggapi tudingan lain di media sosial, ia menyebutnya sebagai fitnah. “Logikanya, saya sebagai pemilik usaha disana harus meminjam uang ratusan juta dari karyawan, itu tidak masuk akal,” ujarnya.

“Logikanya, saya sebagai pemilik usaha di sana, tidak masuk akal kalau harus meminjam uang ratusan juta dari karyawan. Itu tidak make sense,” tegasnya.

Franki menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa dalam dunia bisnis tambang, keuntungan dan risiko merupakan bagian dari kesepakatan bersama.

“Saya murni pengusaha tambang berdarah Papua, Ambon, dan Sangihe. Dalam bisnis ini, profit diterima bersama, risiko juga ditanggung bersama. Itu prinsip yang harus dipahami,” pungkasnya.

Dengan klarifikasi ini, Franki berharap masyarakat tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi dan dapat melihat persoalan ini secara objektif dan berimbang.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *