Air Mati di Hari Raya, Fasilitas Kumuh Tak Pernah Dibenahi, Warga Menanggung Dampak Kelalaian Layanan Publik
Manado, Corong masyarakat.com — Warga Winangun Satu Lingkungan 6, Jambore, Kota Manado, mengeluhkan tidak mengalirnya air bersih PDAM Wanua Wenang pada Kamis, 25 Desember, bertepatan dengan perayaan Natal.
Ketiadaan air di hari raya keagamaan itu membuat aktivitas rumah tangga lumpuh, mulai dari mandi, memasak, hingga sanitasi. Warga menilai kondisi tersebut sebagai bentuk kegagalan serius pelayanan publik.
Hasil investigasi CorongMasyarakat.com di lokasi tempat pengolahan air PDAM Wanua Wenang Jambore Winangun menemukan fasilitas pengolahan dalam kondisi memprihatinkan. Air baku bersumber dari sungai yang saat itu keruh berwarna coklat sehingga tidak dialirkan ke rumah warga.
Petugas di lokasi mengakui penghentian distribusi dilakukan karena kualitas air buruk serta menyebut tidak adanya revitalisasi alat dan fasilitas pengolahan selama bertahun-tahun, sehingga PDAM tidak memiliki solusi alternatif saat air baku bermasalah.
Tim media juga mendapati bak penampungan dan pengolahan air dalam kondisi terbuka, kotor, berlumut, dan berbahan beton kasar. Kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap kualitas air dan mencerminkan pembiaran jangka panjang.
Warga mendesak pemerintah daerah dan manajemen PDAM Wanua Wenang segera bertanggung jawab dan melakukan pembenahan menyeluruh.
Air bersih, menurut warga, adalah hak dasar yang tidak boleh gagal, terlebih pada momentum hari raya keagamaan.
Suara Warga dan Aktivis, menyebut peristiwa ini sebagai kelalaian nyata.
“Ini bukan lagi soal teknis. Kalau hari Natal saja warga dibiarkan tanpa air, berarti pengelolaannya gagal total.
”Lita, warga Jambore, mengatakan dampaknya sangat nyata bagi kehidupan keluarga. “Kami mau masak dan terima tamu Natal saja kesulitan. Bahkan ke WC pun bermasalah. Ini memalukan.”
Hal senada disampaikan Novita, alasan air keruh tak bisa dibenarkan tanpa perbaikan fasilitas. “Kalau bertahun-tahun tidak ada revitalisasi, itu bukan alam yang salah, tapi manusia.”
Aktivis Sulawesi Utara menegaskan pemerintah tak boleh lepas tangan.
“Air mati di hari raya menunjukkan kegagalan struktural pelayanan publik. Pemerintah daerah dan PDAM harus bertanggung jawab. Ini menyangkut hak dasar warga.”
[ Don ]









