MANADO, CorongMasyarakat.com — Serangan di ruang digital kembali menimpa figur publik di Sulawesi Utara. Kali ini, advokat sekaligus Ketua GRIP Jaya Sulut dan Ketua LKBH KORPRI Sulut, Marchelino C.N. Mewengkang atau yang akrab disapa Acel, menjadi sasaran unggahan anonim yang memuat tudingan tak terverifikasi.
Acel memberikan klarifikasi terkait beredarnya informasi di media sosial yang mengaitkan dirinya dengan suatu persoalan, yang hingga kini disebut belum terverifikasi secara menyeluruh.
Ia juga menyampaikan bahwa terdapat konten di media sosial yang menggunakan foto pribadinya tanpa izin serta belum melalui proses konfirmasi kepada dirinya sebagai pihak terkait. Menurut Acel, kondisi tersebut berpotensi merugikan karena informasi yang beredar dinilainya belum melalui proses verifikasi. Situasi ini sekaligus menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam menilai kualitas informasi di ruang digital, apakah telah memenuhi prinsip verifikasi atau masih bersifat opini yang belum teruji kebenarannya.
Menanggapi hal tersebut, Acel memilih bersikap tenang dan tidak terpancing. Ia menegaskan bahwa persoalan yang diangkat merupakan bagian dari kerja sama bisnis yang mengalami kerugian, bukan tindak pidana seperti yang dituduhkan. “Ini murni risiko bisnis. Tidak ada niat tipu-menipu atau penggelapan. Semua dana digunakan untuk kepentingan usaha, dan pihak terkait telah mengetahui serta menyetujui sejak awal,” ujarnya.
Acel juga menyampaikan bahwa persoalan ini pernah dilaporkan ke pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku. Hingga kini, menurut penuturannya, belum terdapat kesimpulan hukum yang menyatakan adanya pelanggaran pidana sebagaimana yang berkembang di media sosial. Ia menilai, upaya yang kini dilakukan pihak tertentu lebih mengarah pada pembentukan opini publik untuk menjatuhkan nama baiknya, bahkan menyeret keluarga yang tidak memiliki kaitan dengan persoalan tersebut.
Peristiwa yang disebut terjadi sejak 2021 itu, menurut Acel, berawal dari bisnis yang kemudian dihentikan sendiri oleh pihak terkait akibat kerugian. Ia menegaskan bahwa dalam dunia usaha, keuntungan dan kerugian adalah hal yang lumrah dan telah dipahami bersama sejak awal kerja sama.
Lebih jauh, Acel mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyaring informasi. Ia mengingatkan pentingnya literasi digital agar publik tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum tentu benar. “Jangan sampai kita ikut menyebarkan sesuatu yang tidak terverifikasi. Dampaknya luas, bukan hanya ke saya, tapi juga ke keluarga,” katanya.
Sikap tenang yang ditunjukkan Acel menjadi penyeimbang di tengah derasnya arus informasi digital. Ia memilih tetap fokus menjalankan tugas sebagai praktisi hukum dan pelayan masyarakat, sembari menyerahkan kebenaran pada proses dan waktu.
Bagi Acel, reputasi tidak dibangun dari satu-dua isu yang beredar di media sosial, melainkan dari rekam jejak panjang, integritas, dan konsistensi. Di tengah terpaan isu, ia justru menegaskan komitmennya untuk tetap berdiri pada prinsip hukum dan etika. (*)












