MANADO, CorongMasyarakat.com — Perkara dugaan pengancaman yang dilaporkan seorang warga di Desa Sapa, Kabupaten Minahasa Selatan, masih bergulir. Kasus ini melibatkan pasangan suami istri, Rolly Kakiay dan Venilya Waroka, yang disebut dalam laporan tersebut.
Melalui tim kuasa hukum, keduanya membantah tudingan intimidasi. Mereka menegaskan bahwa kehadiran di lokasi semata-mata untuk mencari kejelasan terkait dugaan peristiwa yang melibatkan anak di bawah umur.
“Kami melihat ada pemberitaan yang tidak melalui klarifikasi dari klien kami, sehingga informasi yang beredar menjadi bias,” ujar kuasa hukum Venilya Waroka.
Ia menambahkan, informasi yang berkembang di publik seharusnya dilihat secara utuh dan proporsional.
Di sisi lain, pelapor, Feiby Chenni Wilar, membantah adanya kekerasan terhadap anak sebagaimana yang disebutkan pihak terlapor. Ia mempertanyakan dasar munculnya isu tersebut.
“Kalau memang ada kekerasan terhadap anak, mana buktinya?” ujarnya.
Kronologi Peristiwa
Menurut keterangan Feiby Chenni Wilar, peristiwa bermula saat dirinya menemukan pipa air di rumahnya dalam kondisi rusak ketika ia hendak mandi sore. Saat itu, terdapat beberapa anak di sekitar lokasi, termasuk cucunya dan anak dari pihak terlapor.
Ia menegaskan tidak menuduh anak-anak tersebut sebagai penyebab kerusakan pipa. Feiby menyebut dirinya hanya berupaya menanyakan situasi yang terjadi di lokasi.
“Saya hanya bertanya, lalu terjadi dinamika di antara mereka,” ujarnya.
Ia menjelaskan, interaksi yang terjadi di antara anak-anak tidak mengandung unsur kekerasan. Tangisan salah satu anak, menurutnya, bukan disebabkan tindakan kekerasan, melainkan interaksi biasa antar anak, sebagaimana diperoleh dari keterangan saksi di lokasi.
Feiby juga mengklarifikasi bahwa tindakan mengibas baju yang sempat disebut dalam informasi yang beredar dilakukan oleh anak lain, bukan pihak yang dituduhkan.
Terkait kejadian selanjutnya, Feiby menyebut Rolly Kakiay bersama Venilya Waroka dan satu orang lainnya datang ke rumahnya. Ia menilai kedatangan tersebut berlangsung dalam suasana emosi dan disertai adu mulut.
“Mereka datang dengan nada tinggi, marah-marah, dan menunjuk-nunjuk. Ibu saya sedang sakit, sehingga situasi itu membuat kami tidak nyaman. Apakah saya tidak berhak melapor ke polisi?” ujar Feiby.
Ia juga menilai isu kekerasan terhadap anak yang beredar tidak sesuai dengan fakta yang ia alami. Menurutnya, tidak semua anak menangis karena mengalami kekerasan.
“Bisa saja karena interaksi antar anak. Saya hanya bertanya, lalu terjadi dinamika di antara mereka,” katanya.
Pernyataan PPA dan Proses Berjalan
Sementara itu, berdasarkan keterangan yang diterima Feiby dari pihak Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Desa Sapa, tidak ditemukan adanya indikasi kekerasan terhadap anak dalam hasil penelusuran awal.
Meski demikian, seluruh pihak masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari instansi berwenang untuk memastikan fakta secara menyeluruh.
Adapun informasi lain yang beredar di masyarakat masih bersifat keterangan awal dan belum dapat dipastikan kebenarannya secara independen.
Redaksi telah berupaya menghubungi Rolly Kakiay dan Venilya Waroka untuk memperoleh konfirmasi. Namun, hingga saat ini, yang bersangkutan memilih untuk tidak memberikan keterangan kepada media.
Redaksi tetap membuka ruang hak jawab bagi seluruh pihak terkait sesuai ketentuan yang berlaku. Pemberitaan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan menyampaikan informasi yang masih dalam proses penanganan, berdasarkan keterangan narasumber dan kepentingan publik.
Seluruh isi pemberitaan ini merupakan rangkuman informasi dari laporan, keterangan narasumber, serta pernyataan pihak terkait. Setiap dugaan yang disebutkan masih dalam proses penanganan dan belum merupakan kesimpulan hukum tetap. (*Don)












