Seharusnya itu jadi hari biasa—seorang ibu dan anak kecil pulang belanja dengan tenang. Namun yang terjadi justru sebaliknya…
Seorang anak SD harus menyaksikan ibunya gemetar ketakutan, dikelilingi belasan pria yang bertindak seperti mengejar buronan.
MANADO, CorongMasyarakat.com — Aksi yang diduga dilakukan oleh sekelompok debt collector kembali menuai kecaman. Kali ini, seorang perempuan bernama Cindy (CT) bersama anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar menjadi korban dugaan intimidasi yang dinilai berlebihan dan tidak manusiawi.
Peristiwa itu terjadi usai Cindy berbelanja di Golden Supermarket. Tanpa disadari, ia sudah diikuti oleh tiga orang pria yang kemudian menghadangnya saat hendak masuk ke mobil.
Situasi langsung berubah mencekam ketika belasan orang lainnya—yang diduga satu tim—ikut bergabung. Jumlah mereka diperkirakan mencapai 10 hingga 15 orang.
Dengan dalih penagihan kendaraan atas nama pemilik lain, kelompok tersebut langsung menekan Cindy agar menyerahkan mobil yang digunakannya. Tidak hanya itu, mereka juga meminta Cindy ikut ke kantor pembiayaan.
Dalam kondisi panik, Cindy menolak dan memilih pulang ke rumah karena bersama anak kecilnya. Namun tekanan tidak berhenti. Salah satu pria bahkan ikut masuk ke dalam mobil, sementara tim lainnya terus mengikuti.
Lebih mengejutkan, dalam perjalanan, muncul tudingan sepihak bahwa anggota mereka “diculik”—narasi yang diduga sengaja dibangun untuk memperkuat tekanan terhadap Cindy.
Setibanya di rumah, situasi semakin mencekam. Rumah Cindy didatangi dan dikepung oleh belasan orang.
“Saya gemetar, anak saya ketakutan. Kami benar-benar merasa terintimidasi,” ungkap Cindy dengan suara bergetar.
Peristiwa ini memicu reaksi keras dari masyarakat. Banyak yang menilai cara-cara penagihan seperti ini sudah melewati batas dan berpotensi melanggar hukum, apalagi melibatkan intimidasi terhadap perempuan dan anak-anak.
Desakan pun menguat agar aparat penegak hukum segera turun tangan dan menindak tegas pihak-pihak yang bertindak di luar prosedur.
Pihak keluarga menyatakan tengah mempertimbangkan langkah hukum untuk melaporkan kejadian ini, demi mencegah terulangnya tindakan serupa terhadap warga lain.
Tindakan yang diduga dilakukan secara beramai-ramai, mengepung, menekan, hingga membuat anak kecil trauma, bukan lagi sekadar penagihan—melainkan berpotensi menjadi bentuk intimidasi yang meresahkan publik.
Penagihan utang tidak boleh dilakukan dengan cara yang mengorbankan rasa aman, apalagi terhadap perempuan dan anak.
(*Don)












